Minggu, 27 Agustus 2017

*****MEWASPADAI KARAKTER ANAK DALAM ERA DIGITAL****

Musim liburan sekolah saat ini, dimanfaatkan orang untuk berlibur, rekreasi, berkunjung ke rumah famili, shopping, bermain, santai,  dan biasanya menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersenang-senang atau melakukan hobby mereka.  Hal ini dilakukan oleh semua usia, dari anak-anak hingga dewasa.  
Hal menarik yang saya perhatikan belakangan ini adalah, maraknya permainan digital atau video game digemari oleh anak-anak dimusim liburan ini. Sebagian besar anak-anak tersebut berusia 8 -15 tahun. Mereka bermain dirumah, ditempat persewaan atau bahkan di pusat perbelanjaan, bermain sendiri, bersama teman, atau ditemani oleh orantuanya.
Sayang sekali, banyak diantara permainan itu berbau kekerasan, unsur sex, bahkan menggunakan kalimat/kata-kata kasar.
Padahal, usia anak-anak adalah fase menyerap semua informasi, tanpa menganalisa lebih mendalam terhadap informasi yang diterimanya. Pada usia 8 – 15 tahun, manusia belum bisa memaksimalkan fungsi filter pikiran mereka. Apalagi, saat mereka bermain mereka bermain dengan sangat senang dan sering terhanyut dalam permainan hingga lupa waktu, makan, dsb.
Dampak yang sangat serius saya perhatikan 2 hari yang lalu, ketika saya datang ke sebuah warnet utk sebuah urusan. Di dalam warnet yang terisi hampir penuh itu, saya mendapatkan setidaknya ada 5 – 6 anak usia 8 – 15 tahun sedang asyik bermain game online. Ditengah-tengah permainan, saya dikagetkan juga berkali-kali karena mereka melontarkan kata-kata makian dengan suara yang cukup keras. Kata-kata itu ada yg berbahasa Palembang dan bahasa Indonesia. Cukup tragis karena, para orang dewasa yang ada di sana tetap cuek dan meneruskan kegiatan masing-masing. Pemandangan yang sama juga saya temui saat melihat lokasi persewaan video game dengan layar tv besar di beberapa pusat perbelanjaan di Palembang.
Sebagai  konselor saya sering sekali di minta oleh para orangtua untuk melakukan terapi pada anak-anak mereka yang sudah kecanduan bermain video game. Namun tidak sedikit juga yang saya tolak, ya benar saya menolaknya. Karena sebagian besar kecanduan game, justru disebabkan pembiaran (permisif) oleh orangtua tanpa pengawasan yang cukup terhadap aktivitas anaknya. Saat akan dilakukan terapi, anak-anak tersebut jelas saja tidak mau. Dan mereka menolak dengan keras, saat dipaksa terus oleh ortunya.
Sebelum keadaan semakin tidak terkendali, kita bisa melakukan kiat2 berikut agar pembentukan karakter anak tetap sesuai norma, dan mencegah kecanduan pengaruh dunia digital.
Kiat-kiat ‘smart’ :
  1. Pilih permainan yang sesuai dengan RATINGnya, atau pilih permainan yang sesuai USIA. Di Amerika aturan rating banyak sekali dalam game, Children, Teenager, Tenager+, Adult, dsb ada juga Negara-negara lain yang memberi rating Soft, Soft Intermediate, Parental Advisory, Hardcore dsb. Tidak semua tampilan kartun, dibuat untuk anak-anak.
Beberapa game yang bisa dikategorikan bukan untuk konsumsi anak dibawah 18 tahun adalah:
·         GTA (Grand Thief Auto) All version dikarenakan isinya hanya KEKERASAN, DIAJARKAN BERBUAT KRIMINAL,Ucapan-ucapan kasar, Tampilan SEX, dan tidak ada content(muatan) yang mengedukasi. Ini berlaku untuk versi PS ataupun Game Komputer.
·         Counter Strike, Point Blank, dan sejenisnya. Adalah game simulasi pasukan tentara yang menangani teroris. Isinya sarat dengan kekerasan, dan ada tampilan yang mengandung kekerasan seperti bercak darah setiap kali tertembak dsb.
·         The SIMS 2, adalah permainan dalam membangun rumah dan isinya. Sepintas sepertinya tidak ada masalah anak-anak memainkannya, namun apabila diperhatikan hingga level2 berikutnya. Ada kegiatan “manusiawi” yang diperankan oleh tokoh dalam game itu untuk kelangsungan hidupnya. Seperti mencari pacar,  berciuman, hingga berhubungan seperti suami istri. Jelas sekali ini bukan konsumsi anak2.
·         Dsb
  1. Berikan pilihan mainan yang beragam sejak dini. Permainan yang melingkupi kegiatan dalam dan luar ruang. Dan buat aturan yang menyenangkan saat memainkannya.
  2. Tegaslah pada diri sendiri, jangan mentolerir game-game yang mengandung kekerasan.
  3. Masuk dan pelajari (cari tahu) tentang permainan itu dari Media atau orang-orang lain yang di anggap lebih tahu.
  4. Luangkan waktu berkualitas bagi anak, lebih banyak pada musim liburan.
Dalam banyak sisi, game2 tersebut adalah pembentukan karakter anak menjadi “negatif”. Hal ini disebabkan, tampilan, ucapan-ucapan, kegiatan/aksi, yang dilakukan seakan “baik-baik” saja utk dilakukan. Sehingga suatu saat, anak-pun akan merasa nyaman saat melakukannya. Makanya tidaklah heran, apabila minimnya pengawasan dari orang tua tiba-tiba dikejutkan saat terjadi peristiwa kekerasan/pelanggaran hukum oleh anaknya.
Smart Listener, mulai saat ini dan setrusnya, kita sebagai orangtua. Harus bisa menyesuaikan diri dalam mendidik anak. Karena pendidikan yang terbaik adalah mendidik anak sesuai dengan masanya.
 
SELAMAT MENCOBA, SUKSES UNTUK KITA SEMUA.
#artikel ini adalah rangkuman saat  mengisi program "Smart Human" di Smart FM Palembang.
Narasumber  
Benny Sutan Rajo Intan, S.Psi, MCH, CHt  
atau juga dikenal sebagai “Benny Boy” adalah praktisi Hipnoterapi, Trainer, dan Konselor dari Anbiya Creative Company (  A Psychological – Training Consultant). www.duniaACC.com  

Alamat
Anbiya Creative Company - Pusat Konseling dan Terapi
Jam Kerja (dengan perjanjian)
Jl. Tanjung Karang no. 23 RT 31, Komplek DPRD Kenten, Palembang 30114
Telp. 0821 3000 8049
Email : info@duniaacc.com  
 
 
#hipnoterapipalembang #hipnoterapiklinis #hipnoterapi #belajarhipnoterapiklinis #hipnoterapipositif #manfaathipnoterapi #kesehatan #jiwa #belajarhipnoterapi #psikologi  #biropsikologipalembang #konsultasipsikologi #psikologipalembang #psikis #konseling #konselingkeluarga #konsultasi #palembang #duniaACC #mentalblock #gagalmoveon #stress #depresi #fobia #selfhealing #bahagia #motivasi  #motivatorpalembang #motivator #outbound #outboundtherapy #terapi #seminarpalembang #pelatihanpalembang #trainerpalembang #narasumberpalembang #pembicarapalembang